Debu yang Usang
|JW. Usop|
 
Tidak pernah bisa mengerti apa yang dia inginkan…
Tidak pernah tau juga apa yang di lakukan
Pernah dicoba’.., pernah diberi, pernah dilindungi..
Namun tak pernah menyakiti..ku.

Hanya bisa terus meminta..
Tanpa pernah membalas kebaikannya’…
Hanya bisa mengikuti jalannya..
Tanpa pernah tau’ dimana ujungnya..

Maafkan bila terus; membuat dosa..
Maafkan jika nista dimatamu..
Kau beri nafsu..
Kau beri nafas..
Tidak pernah bisa mengendalikan sesuai kehendakmu..
Maaf bila debu kecil ini terus menyakitimu..
Hanya kepada Mu aku berserah dan hanya kepada Mu aku bersujud’…

 

 

Senggama
 |JW. Usop|
hah…,
berkali-kali” aku bercengrama dengan wanita..
tapi tak pernah aku bisa tidur disisinya dengan nyeyak’..,
sering kali kami’ tertawa bersama, namun hanya bisa menertawakan aku..
rambut.., tangan, rangkulan.., semuanya kadang sangat terpaksa’

ketika aku’ belajar keindahan sangat menyenangkan’..
namun ketika menggauli keindahan anatomi sangat membosankan
besok aku menggaulinya.., tapi dengan cara yang berbeda..

aku’ akan menggunakan cara yang baru’
menggunakan caranya dengan penuh cinta..
aku rasa, kali ini’ aku bisa tertidur dengan nyaman.., bersamanya..

IMPRESI
Palangka Raya, 20 Nopember 2010.

ketika belum mengenal apa itu fungsi
saya sudah akrab dengan dipan
wadah saya diletakan ketika hanya bisa menangis
tempat kakak saya berkumpul
melihat dan berkomentar tentang saya
yang menjadi objek tontonan mereka

Dipan yang selalu dihiasi kelambu
kelambu tipis yang terikat dengan tali disetiap ujung dipan
seingat dan menerka ketika saya kecil
dipan saya terbuat dari besi berongga dan berwarna biru
berada di kamar depan rumah kakek dengan jendela berdaun
yang tebuat dari kayu, lengkap dengan pasaknya
walaupun pasak hanya di pakai kala malam

waktu berlanjut dan saya sudah berdasi..
berdasi tapi bukan orang kantoran
tapi saya siswa SD 100 meter dari rumah
sebagai orang berdasi, saya diberikan ruang
dengan fasilitas dipan dan meja kerja tempat saya belajar
ruang inilah yang bagi saya awal dari pemhaman saya akan ruang private dan fungsinya
ruang yang menjadi idaman ketika guru saya mengajarkan tentang Pancasila dan UUD

Dipan idaman saya ini terbuat dari kayu ramin
dengan sandaran kepala dilapisi kain beludru hijau
untuk rebahannya terbuat dari kasur kapuk yang kadang empuk
dipan inilah tempat saya, adik dan kakak saya bercerita pengalaman dan kisah-kisah kita

Dipan itu kini telah tiada hancur bersama jaman
dipan yang menemani kala saya lelah dan bermain dengan imajinasi saya
dipan yang sepenuhnya milik saya ketika saya lelah di malam dari
dan terbangun di pagi hari di bawah dipan memeluk guling dengan tempat obat nyamuk
bakar di depan bibir saya..

Jalan Lurus
( Juni 2011 )
JW. Usop

Kaki ini melanjutkan sebuah perjalanan
Perjalan yang haru, perjalanan mimpi
Kacau ketika berjalan, hati yang lelah
Bayang-bayang pupus tersirat di raut wajah

Kembali kaki ini berjalan
Terasa hancur memang
Hempasan ini memang bersandar
Ditepian jiwa yang belum mampu mendekati cakrawala

Jalan itu lurus dan kaku
Tertanam di atas bumi menahan beban
Jalan itu adalah sahabat, sahabat yang paling bersahabat
Sulit melupakan jejak cerita jalan ini
Perjalanan di atas jalan yang menjadi sahabat
Jalan Lurus itu semakin menanjak
Terlihat pohon teduh, sejenak bersandar menepi.