( Kedamaian tempat bernaung dengan terpaan angin sungai )
Oleh:
Joni Wahyubuana Usop
Perjalanan kali kali ini menuju desa Buntoi di Kabupaten pulang Pisau, dengan tujuan pertama Huma Gantung di tepian sungai Kahayan yang melintasi desa Buntoi.17 Januari 2011 cuaca bersahabat, serasa mendukung aktivitas kami untuk merasakan keteduhan rumah milik suku Dayak Ngaju di tepian sungai Kahayan. Meninggalkan Palangka Raya pukul 06.45 WIB bersama 30 orang Mahasiswa Arsitektur angkatan 2009 Universitas Palangka Raya, perjalanan menggunakan bus kampus dengan Pak Yusran sebagai juru mudi.
Pukul 09.50 WIB masuk ke permukiman penduduk, dan menempatkan bus di halaman Sekolah Dasar yang ada di Buntoi, perjalanan dilanjutkan dengan kaki, sekitar 500 meter, matahari mulai terik menyengat, masuk ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaran roda dua, yang mengikuti pinggiran sungai, mulai terlihat rumah penduduk desa yang sederhana, meneduhkan terik dan menarik secara visual. Bentuk rumah di desa Buntoi ini sebagian masih menggunakan kayu dengan bukaan jendela di depan dan sisi rumah, denah rumah persegi panjang, dengan beberapa ornamen pada muka depan bangunan. Sekitar 15 menit berjalan dan beberapa saat terhenti untuk mengambil beberapa foto rumah penduduk, akhirnya sampai di depan Huma Gantung, disambut dengan pagar beton yang mengusik mata, seolah-olah ingin mengalahkan Sandong yang berada tepat di belakang pagar beton berwarna pastel. Panas matahari mulai menyengat keasyikan mengamati Sandung mulai terusik disamping dorongan untuk cepat menuju Huma Gantung yang teduh dan kokoh. ( bersambung )