Desain Bagi Industri Furniture
di Kalimantan Tengah
* oleh : Joni Wahyubuana Usop
A. Pengantar
Minggu malam di stasiun televisi lokal Surabaya, terdapat tontonan menarik tentang UKM (usaha kecil menengah) yang sukses di Jawa Timur. Malam itu menghadirkan seorang pengusaha mebel jasa pembuat counter/outlet/rombong, atau gerobak dagang untuk pedagang kaki lima, dengan merk dagang Mr.Rombong.
Gerobak dagang yang di tawarkan ‘Mr.Rombong’ ini menawarkan bentuk yang unik dan disesuaikan dengan keinginan dari pedagang (custom made), dari tayangan di JTV Surabaya ‘Mr.Rombong’, mampu membuat desain rombong sesuai dengan kebutuhan pedagang terutama pedagang kaki lima, dari rombong yang seperti becak, rombong yang didorong dan rombong yang berupa counter.
Cerita diatas adalah kejelian dari seorang pengrajin/pengusaha UKM dalam membaca peluang. Dengan adanya usaha pembuatan rombong miliknya banyak pedagang yang merasa diuntungkan terutama dari tampilan rombong yang menjadi menarik, baik dari segi bentuk, warna, dan kenyamanan selama melayani pembeli menjadi terpenuhi. Di Palangka Raya banyak UKM yang begerak di jasa pembuatan mebel/kusen, las besi, kerajinan tangan berbahan rotan, dan kain batik khas kalteng, dll.
Usaha kecil menengah (UKM) di Kalteng seolah-olah mengalami kejenuhan dengan produk yang mereka tawarkan. Pengusaha atau pengrajin di Kalteng cenderung membuat benda yang sama untuk mereka pasarkan tanpa ada inovasi dan pembaharuan dalam desain produk mereka. Produk yang mereka anggap laku di pasaran, dibuat terus menerus sehingga pembeli merasa jenuh dengan produk yang mereka tawarkan disamping kualitas yang semakin menurun.
Untuk industri mebel jelas sekali tampak penurunan kualitas, baik dari segi desain maupun pengerjaannya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan beberapa tahun silam dimana Kalimantan Tengah terutama daerah Mandomai di Kabupaten Kuala Kapuas termasuk penghasil furniture berkualitas ekspor, dan banyak digunakan untuk furniture kantor, rumah tangga, dan juga perhotelan.
Apa yang mengakibatkan munculnya permasalahan diatas? Terutama dengan industri mebel di Kalimantan Tengah. Apakah karena tidak ada/sulitnya bahan dasar mebel? Atau bentuk dan produk yang ditawarkan selalu sama?, baik dari material maupun rancangan mebel? Atau kurangnya pemahaman desain pengrajin/desainer mebel?
B. Proses Kreatif Desain
Desain muncul ditengah kehidupan masyarakat modern, masyarakat industri yang berawal dari revolusi Industri. Desain hadir sebagai upaya kreatif dan inovatif manusia untuk memenuhi tuntutan dari aktivitas kehidupannya.
Proses kreatif ini hadir ketika otak kiri dan otak kanan bekerja dan diolah oleh alam pikiran manusia.
Hadirnya desain, merupakan pemikiran kreatif dan inovatif dari dalam diri manusia. Pemikiran kreatif dan inonavif yang muncul untuk memecahkan berbagai masalah dipahami sebagai konsep yang terprogram. Didalam profesi desain, pemrograman desain itu dikenal dengan istilah konsep desain.
Proses berpikir dalam desain disebut programming. Bila Programming adalah pencarian masalah ( problem seeking ), maka desain adalah pemecahan masalah adalah pemecahan masalah ( problem solving ). Dengan demikian, programming adalah analisis dan desain adalah sintesis.
Programming mengacu pada masalah yang rasional – obyektif yang diwujudkan dalam bentuk konsep – konsep. Konsep adalah upaya pencarian data yang bertujuan untuk memecahkan masalah dan bersifat subyektif, intuitif, tetapi mudah dalam menangkap konsep-konsep secara fisik. Konsep dibuat untuk melancarkan jalan menuju implementasi desain.
C. Mengenal Proses Desain Mebel
Kata furniture (dalam bahasa Inggris) diterjemahkan menjadi mebel. Istilah ‘mebel’ digunakan karena sifatnya bergerak atau mobilitasnya sebagai barang lepas di dalam interior arsitektural.Kata mebel diambil dari bahasa Perancis yaitu meubel.
Berawal dari revolusi industri, design lahir sebagai satu upaya kreatif dan inovatif manusia, hasil olah rasa dan gagas otak manusia. Desain hadir dari pemikiran kreatif dan inovatif manusia untuk memecahkan berbagai masalah dan dipahami sebagai konsep terprogram.
Menurut Drs. Eddy S. Marizar dalam bukunya Designing Furniture, terdapat sepuluh masalah yang harus diolah dalam satu proses desain mebel meliputi : (1) studi aktivitas manusia pemakai, (2) studi gerak manusia dan antropometrika/ukuran/dimensi, (3) studi fungsi dan ergonomi, (4) studi bentuk dasar dan estetika, (5) studi bahan utama dan tekstur, (6) studi warna, (7) studi struktur dan konstruksi, (8) studi ragam hias. (9) studi bahan penunjang dan hardwares, (10) studi gaya (style) dalam desain. Bila kesepuluh masalah tersebut sudah dapat dipetakan secara sistematik dan rasional, maka desainer membuat sketsa alternatif dalam bentuk gambar perspektif atau gambar presentasi. Langkah selanjutnya adalah membuat model/sample produk.
Proses diatas kemudian dikonsultasikan kembali pada pemesan atau pengguna, maka produk mebel yang sudah dievaluasi tadi dibuat kedalam gambar kerja dengan mengunakan skala. Proses terakhir bagi desainer adalah mewujudkan produk tiga dimensional ke dalam proses produksi yang sesuai dengan pesanan pengguna.
D. Gagasan
Di indonesia dan juga di Kalimantan Tengah, pengrajin mebel cenderung senang menjiplak desain orang lain dan rancangan mebel dari desainer asing (barat). Sebenarnya apabila desainer mampu mengembangkan kreatifitas dan inovasinya dalam gagasan bentuk mebel, maka tidak akan selalu hadir meja berbentuk oval atau persegi panjang.
Lingkungan hidup kita bisa di jadikan sumber inspirasi yang tiada habisnya, Alam adalah guru bagi seorang perancang mebel. Pernahkah anda melihat sebuah kursi berbentuk dasar dari tangan manusia? Apakah anda pernah melihat gagasan sebuah meja dari bentuk bunga? Apakah anda pernah melihat sebuah meja dengan penyangga berupa huruf atau angka? Atau pernahkah anda terpikir membuat lemari berbentuk tubuh manusia atau kursi berbentuk kupu-kupu.
Bentuk yang unik inilah yang menjadi daya tarik sebuah furniture, sehingga pengusaha mebel ataupun perancang furniture di Kalteng tidak perlu meniru rancangan yang sudah ada dan membuat furniture yang pasaran.
Diharapkan pengusaha furniture/mebel di Kalimantan Tengah dapat kreatif dan inovatif dalam merancang desain furniture seperti yang dilakukan ‘Mr.Rombong’ dari daerah Jawa Timur, sehingga produknya laku dijual dan penggunanya/pedagang merasa diuntungkan dengan menggunakan produk dari Mr.Rombong.
Peran Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (DEPERIDAGKOP) Kalteng sangat dituntut disini dalam memajukan industri furniture/mebel di Kalimantan Tengah, baik dalam bentuk pelatihan bagi pengusaha/pengrajin/desainer furniture, dan juga pameran produk yang di lakukan secara berkelanjutan baik di daerah maupun di luar Kalimantan Tengah.
Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan masukan yang bermanfaat dan menjadi perbandingan di hari yang akan datang, untuk kemajuan industri furniture/mebel di Kalimantan Tengah.
Dikirimkan ke Surat Kabar Harin KALTENG POS, tidak diterbitkan.
Thanks ulasannya
semoga semua bisa terinspirasi
gud job.., Mr.Rombong.., thanks sudah mampir ke blog ini..
salam kenal dari saya mas steven…saya Yunus dari PT.Sigmaco Saksama Indonesia yang bergerak di bidang distributor Kain Sunbrella yang mungkin mas steven sudah pernah dengar/sudah pernah main kain Sunbrella..untuk desain furniture yang mas produksi pada saat ini..kain Sunbrella adalah mutu bahan yang teruji kwalitas dan juga kwantitasnya diantara kain-kain lokal yang ada pada saat ini,kain Sunbrella adalah kain yang sangat terkenal di EROPA khususnya di USA negara penghasil Sunbrella.kalau Mas Steven ada minat silakan hub alamat Email Yunus disini/hub ke.
Telp:
085 646 108 646
087 854 310 072
YUNUS.A
Marketing Executif