Sedikit Tentang Bambang Sugiharto

Standard

Saya baru pertama membaca tulisan Prof.DR. Bambang Sugiharto pada kumpulan tulisan seri kuliah umum Arsitektur UPH Jakarta, dari sana saya mulai mengenal kekuatan pemikiran dari beliau, hari ini saya mencari profilenya di Gogle, saya rasa penting untuk membagi tulisan yang saya baca dari niasonline’ ini.

Bambang Sugiharto, “Filsuf Underground”
Sunday, March 16, 2008
By susuwongi

Oleh Frans Sartono

Profesor Doktor Bambang Sugiharto (52) oleh kawan-kawannya dijuluki sebagai ”filsuf underground”. Doktor filsafat yang lulus ”summa cum laude” dari Universitas San Tomasso, Roma, Italia, itu bukan hanya gemar musik rock, tetapi juga dekat dengan komunitas ”underground” Bandung. Di tengah situasi bangsa yang tengah bingung dan korup, Bambang melihat harapan pada kaum ”underground” itu.

”Mau minum apa? Mau whisky cola?,” kata Bambang menawari minuman pada Kompas saat bertandang ke ruang kerjanya di Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan (Unpar), Jalan Nias, Bandung, pada suatu sore yang sejuk awal Maret lalu.

”Saya suka strong taste (rasa berani),” kata Bambang yang dikukuhkan sebagai guru besar ilmu filsafat di Unpar pada 16 Desember 2006.

”Sebagai intelektual de facto, saya masih menikmati musik rock. Saya suka Korn, Limp Bizkit, Linkin Park he-he…. Untuk mood tertentu saya masih dengerin itu semua,” kata Pembantu Dekan I di Fakultas Filsafat Unpar.

Apa sebenarnya yang tengah dialami bangsa ini tampaknya ada semacam kebingungan?

Ini kompleks. Saya melihat salah satu sisi masyarakat Indonesia sekarang baru terbangun dalam menyadari hak-haknya, tetapi mereka berbenturan dengan sistem yang tak berjalan baik. Birokrasi yang macet dan etos kerja yang begitu rendah. Mereka berhadapan dengan sistem yang tidak efektif untuk mengelola bangunnya kesadaran atas hak-hak itu. Eksesnya, mereka menjadi over-sensitif terhadap perlakuan sewenang-wenang.

Sensitivitas berlebihan itu terungkap dalam anarkisme. Itu cerminan dari kebingungan dalam mengungkapkan hak, otonomi, dan kekuasaan. Kalau saya lihat di televisi, setiap hari pasti ada kekacauan, demo. Entah itu akibat penggusuran, PHK, atau ketidakpuasan lain.

Bagaimana peran tradisi atau agama?

Sistem atau pola perilaku baku yang mengendalikan perilaku atau etos kerja itu pun sedang bubrah. Sistem pola baku, entah itu dari tradisi dan agama, kini berhadapan dengan kemungkinan penawaran baru. Akibatnya, pola lama menjadi tidak lagi berwibawa sebagai pegangan. Itu menambah kebingungan.

Korupsi itu bagian kebingungan? Termasuk wakil rakyat sampai jaksa?

Hmm… tiba-tiba juga kita sedang terbuka dalam menikmati hidup, menikmati komoditas. Kalau saya lihat di mal saya bertanya bagaimana mereka bisa membiayai beli mainan yang sebenarnya mahal. Saya suka terheran-heran karena situasi ekonomi sulit, tetapi dunia konsumsi meledak.

Itu menunjukkan pesona komoditas. Orang yang sudah capai miskin mencari comfort (kenyamanan) supaya bisa mencicipi material. Bagi mereka yang punya akses kekuasaan politik atau finansial yang lebih besar, segera masuk ke wilayah itu dengan membabi buta yang mengakibatkan korupsi dan segala macam itu.

Apa sebenarnya yang berada di balik budaya korupsi?

Yang lebih mendasar adalah kesulitan untuk konsisten dan berkomitmen. Korupsi dalam berbagai bentuk itu bukan hanya soal uang, tetapi juga perilaku dan kiblat nilai. Kita sulit sekali konsisten dalam kesetiaan, dalam berkomitmen, dalam religi dan kiblat nilai.

Anarki

Sehari-hari Bambang mengendarai Kymco, sepeda motor bebek otomatis untuk mengajar di Fakultas Filsafat Unpar di Jalan Nias. Tetapi, dia juga mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan FSRD Maranatha. Kadang dalam sehari ia harus wira-wiri ke tiga kampus itu. Karena Bandung macet, demi efektivitas waktu Bambang memilih motor. Mobil hanya digunakan untuk akhir pekan bersama keluarga.

”Saat naik motor saya alami betapa mudah saya menjadi bagian dari anarki. Godaan menjadi anarkis itu luar biasa. Saya berpikir, motor adalah kekuasaan paling sederhana yang dimiliki masyarakat bawah. Dengan motor, mereka memiliki excitement dan kekuasaan. Mereka sikat trotoar, terabas lampu merah. Situasi jalanan itu persis situasi birokrasi yang parah. Saya pikir itu juga ada kaitannya dengan sistem yang tidak jalan.”

Apakah itu masalah ketidakmampuan mengorganisasi segala sesuatu?

Ini masalah ketidakmampuan mengorganisasi diri yang parah. Membenahi angkot saja tak jalan sampai puluhan tahun. Ketidakmampuan, bahkan untuk satu hal yang sederhana, itu sesuatu yang mengerikan. Sementara sistem yang sudah ada tidak jalan. Ketika kohesi kelompok menjadi sangat mengendur hal itu menjadi semakin kacau karena yang terjadi adalah survival of the fittest. Yang penting gue dulu selamat.

Apa sebenarnya di balik anarkisme itu?

Pada tataran politik saya kira kita sudah lama berada dalam situasi keterjajahan yang parah. Pada masa Orde Lama, Orde Baru kita terus terjajah. Dalam situasi seperti itu, mau tak mau kekuasaan menjadi menarik. Bukan karena orang bisa menguasai orang lain, tetapi karena kekuasaan adalah privilege, hak istimewa, bukan tanggung jawab.

Yang tertanam selama ini adalah atmosfer tertindas dan menindas sehingga dalam setiap pilkada semua orang ingin menjadi gubernur, bupati, bahkan presiden. Ada fenomena tragis waktu caleg, yaitu orang menjual apa pun dengan harapan akan kembali sekian kali lipat. Bahwa itu akses pada kekayaan dan kenyamanan. Saya kira itu motivasi sederhana bagi orang untuk memasuki kekuasaan.

Saya sulit sekali menemukan orang yang bisa saya yakini masuk ke dalam kekuasaan untuk bisa bertanggung jawab, untuk mengubah realitas.

Apakah kita tak punya kultur berorganisasi?

Saya curiga, itu bukan karena ketidakmampuan berorganisasi. Dalam sistem kerajaan organisasi itu mestinya jalan. Dalam Orde Baru kehidupan masyarakat sangat well organized—terorganisasi dengan sangat baik—sampai tingkat RT, RW. Ada posyandu di desa-desa dan semuanya jalan. Itu yang saya kagumi pada zaman Soeharto, yaitu kemampuan membuat struktur yang dahsyat sekali. Meskipun, tentu saja, ada kelemahan.

Sistem yang top down, dari atas ke bawah?

Ya, sistem top down itu menjadi struktur untuk membungkam aspirasi dari bawah. Itu seperti struktur dalam negara sosialis.

Kita lihat yang terjadi sekarang, ketika orang ingin mengungkapkan aspirasi, strukturnya yang menjadi hancur. Ada atmosfer tidak percaya pada struktur.

Krisis identitas

Dalam situasi bingung dan kacau, Bambang melihat gejala krisis identitas. Orang kehilangan identitas dan bingung mencari pegangan.

”Intelektual merakit sendiri identitas mereka. Mereka tak andalkan kategori baku, seperti agama, suku, atau ideologi. Mereka menjumput dari apa pun. Mereka bangun identitas sendiri dengan bertualang atau mencampuradukkan apa pun.”

Bagaimana nasib kelompok yang belum terdidik?

Masyarakat yang kurang terdidik, yang kemampuan kritisnya kurang berkembang, mengalami gerak sentripetal. Mereka kembali ke sistem-sistem harfiah. Pada agama itu bisa disebut fundamentalisme atau apa pun. Itu bisa masuk dalam sistem agama atau etnik.

Gerakan ideologisasi identitas seperti itu sedang berkembang. Ada kecenderungan dalam sistem identitas orang kembali pada sistem yang ada. Mereka tertutup pada kecenderungan kritis dan revitalisasi.

Sebetulnya, hal ini menambah keruh situasi. Dalam situasi seperti ini, identitas kolektif menjadi perpanjangan egosentrisme yang tidak realistis. Itu lebih merupakan identitas kepanikan dalam ketidakmampuan mengelola hal baru yang serba tak pasti. Akhirnya orang berlindung pada sesuatu yang pasti. Itu akan menakutkan karena pasti akan kontraproduktif. Muncul kemudian primordialisme yang berlebihan. Kalau di dalam agama itu adalah puritanisme yang menakutkan. Puritanisme dalam arti harfiah, bukan pada kekokohan pada prinsip moral, tetapi juga pada tendensi pemurnian atau pretensi memurnikan ajaran. Itu menakutkan.

Saya tidak mengatakan itu jelek, tetapi ada unsur kontraproduktifnya. Ada unsur mengelakkan tantangan yang sebetulnya riil. Saya kira, kita perlu melihat identitas bukan sebagai sesuatu yang stereotip, baku dan mandek.

”Underground”

Apakah ada harapan di tengah kondisi seperti sekarang?

Saya melihat ada sementara kelompok yang mengalami gerak sentrifugal. Mereka keluar dari kerangkeng sistem dan membuat sistem sendiri. Keluar dari situasi chaotic (kacau), kelabu, dan pesimistis seperti saat ini saya melihat meriapnya gerakan mikro. Sebutlah itu mikro politik dalam bidang kebudayaan dan pendidikan. Orang mencari jalan sendiri, merevitalisasi diri sendiri, dan menggali kemampuan diri. Itu mengharukan.

Inisiatif, perpanjangan dari individualitas itu ternyata tidak selalu jatuh pada primordialisme sempit. Dari mereka ada gairah membentuk gerakan mikro. Misalnya, ada yang peduli pada situasi pendidikan. Mereka membuat gerakan pendidikan alternatif untuk mengimbangi apa yang tak didapat di sekolah. Daripada mengeluh terus.

Di Bandung ada kelompok kecil yang merintis toko buku alternatif. Mereka menjual buku yang mungkin tak pasaran. Mereka punya komunitas tersendiri.

Apakah gerakan underground dari Ujungberung juga masuk dalam wilayah itu?

Itu lebih mengharukan lagi. Bagaimana dari kawasan pinggiran itu tiba-tiba muncul kelompok yang menata diri. Dari sudut itu terlihat kemampuan mengorganisasi diri, melembagakan di dalam band-band.

Mereka tidak main-main. Kiblat dan referensi mereka fantastis. Dari wilayah yang kita kira pinggiran itu mereka punya akses internet ke denyut band rock global. Tadinya saya tak percaya, tetapi ketika akhirnya saya terseret masuk ke wilayah seperti itu saya sungguh kagum karena mutu musikal mereka fantastis. Saya tak pernah bayangkan anak Ujungberung memasuki wilayah yang sophisticate dalam bidang rock.

”Sophisticate?”

Ya, Ivan dari Burger Kill yang meninggal itu bacaannya George Orwell, 1984. Riwayat Ivan ditulis Ivan jadi novel. Mereka masuki wilayah sastra. Itu terobosan dari wilayah pinggiran lewat pola mikro sampai akhirnya memasuki wilayah dunia intelektual dengan cara sendiri.

Yang menarik, setiap komunitas kecil itu punya koneksi dengan komunitas lain sehingga yang namanya pola organisasi dalam rangka jejaring itu betul-betul riil. Kelompok underground itu juga berkaitan dengan distro, penjual pakaian, dan toko buku. Itu menakjubkan.

Apa harapan dari kelompok mikro-politik itu?

Saya tak tahu itu akan bakal jadi apa. Mereka adalah orang-orang yang masuk dalam jalur sentrifugal. Mereka berani menghadapi perubahan situasi dengan nyali dan nalar serta dengan passion yang baru. Mereka menghadapi perubahan tanpa panik, bahkan menyerbu dengan antusias. Ini sesuatu yang menjanjikan.

Mereka bergerak mengandalkan reflektivitas sendiri. Artinya sambil mengamit masa lalu mereka juga mengunyah yang baru, tetapi dengan gaya gue sendiri. Seperti slogan MTV: gue banget.

Mereka dituduh antek kapitalis.

Kalau mereka dibilang budak dunia Barat, ternyata mereka punya jawaban canggih. Mereka tahu apa itu wayang, calung. Bahkan si Kimung itu skripsinya tentang sejarah angklung.

Anda dekat dengan kaum underground?

Saya pernah diundang kelompok underground. Semula saya ragu-ragu. Bagaimanapun pergaulan saya di wilayah intelektual. Saya memang kenal sama mereka, tetapi ketika harus berhadapan dengan—istilah mereka—begundal-begundalnya, saya takut. Saya pernah diundang bicara dengan mereka. Di luar dugaan mereka semua santun. Sedikit saja ada hal sensitif mereka tepuk tangan.

Bagaimana Anda bicara dengan mereka?

Sewaktu saya harus berbicara di depan mereka, saya sempat berpikir, apa mereka mengerti kalau saya ngomong, meski saya sederhanakan. Ternyata mereka mengerti dan sangat apresiatif sehingga citra rock itu kekerasan non-sense. Itu stereotip yang tak benar.

Sumber: http://www.kompas. com/kompascetak/ read.php? cnt=.xml. 2008.03.16. 01025718&channel=1&mn=183&idx=183

Dikutip sama Persis dari : http://niasonline.net/2008/03/16/bambang-sugiharto-filsuf-underground/

Perjalanan melihat Huma Gantung di Tepian Sungai Kahayan

Standard

( Kedamaian tempat bernaung dengan terpaan angin sungai )

Oleh:
Joni Wahyubuana Usop

Perjalanan kali kali ini menuju desa Buntoi di Kabupaten pulang Pisau, dengan tujuan pertama Huma Gantung di tepian sungai Kahayan yang melintasi desa Buntoi.17 Januari 2011 cuaca bersahabat, serasa mendukung aktivitas kami untuk merasakan keteduhan rumah milik suku Dayak Ngaju di tepian sungai Kahayan. Meninggalkan Palangka Raya pukul 06.45 WIB bersama 30 orang Mahasiswa Arsitektur angkatan 2009 Universitas Palangka Raya, perjalanan menggunakan bus kampus dengan Pak Yusran sebagai juru mudi.
Pukul 09.50 WIB masuk ke permukiman penduduk, dan menempatkan bus di halaman Sekolah Dasar yang ada di Buntoi, perjalanan dilanjutkan dengan kaki, sekitar 500 meter, matahari mulai terik menyengat, masuk ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaran roda dua, yang mengikuti pinggiran sungai, mulai terlihat rumah penduduk desa yang sederhana, meneduhkan terik dan menarik secara visual. Bentuk rumah di desa Buntoi ini sebagian masih menggunakan kayu dengan bukaan jendela di depan dan sisi rumah, denah rumah persegi panjang, dengan beberapa ornamen pada muka depan bangunan. Sekitar 15 menit berjalan dan beberapa saat terhenti untuk mengambil beberapa foto rumah penduduk, akhirnya sampai di depan Huma Gantung, disambut dengan pagar beton yang mengusik mata, seolah-olah ingin mengalahkan Sandong yang berada tepat di belakang pagar beton berwarna pastel. Panas matahari mulai menyengat keasyikan mengamati Sandung mulai terusik disamping dorongan untuk cepat menuju Huma Gantung yang teduh dan kokoh. ( bersambung )

Desain Bagi Industri Furniture di Kalimantan Tengah

Standard

Desain Bagi Industri Furniture
di Kalimantan Tengah

* oleh : Joni Wahyubuana Usop

A. Pengantar
Minggu malam di stasiun televisi lokal Surabaya, terdapat tontonan menarik tentang UKM (usaha kecil menengah) yang sukses di Jawa Timur. Malam itu menghadirkan seorang pengusaha mebel jasa pembuat counter/outlet/rombong, atau gerobak dagang untuk pedagang kaki lima, dengan merk dagang Mr.Rombong.
Gerobak dagang yang di tawarkan ‘Mr.Rombong’ ini menawarkan bentuk yang unik dan disesuaikan dengan keinginan dari pedagang (custom made), dari tayangan di JTV Surabaya ‘Mr.Rombong’, mampu membuat desain rombong sesuai dengan kebutuhan pedagang terutama pedagang kaki lima, dari rombong yang seperti becak, rombong yang didorong dan rombong yang berupa counter.
Cerita diatas adalah kejelian dari seorang pengrajin/pengusaha UKM dalam membaca peluang. Dengan adanya usaha pembuatan rombong miliknya banyak pedagang yang merasa diuntungkan terutama dari tampilan rombong yang menjadi menarik, baik dari segi bentuk, warna, dan kenyamanan selama melayani pembeli menjadi terpenuhi. Di Palangka Raya banyak UKM yang begerak di jasa pembuatan mebel/kusen, las besi, kerajinan tangan berbahan rotan, dan kain batik khas kalteng, dll.
Usaha kecil menengah (UKM) di Kalteng seolah-olah mengalami kejenuhan dengan produk yang mereka tawarkan. Pengusaha atau pengrajin di Kalteng cenderung membuat benda yang sama untuk mereka pasarkan tanpa ada inovasi dan pembaharuan dalam desain produk mereka. Produk yang mereka anggap laku di pasaran, dibuat terus menerus sehingga pembeli merasa jenuh dengan produk yang mereka tawarkan disamping kualitas yang semakin menurun.
Untuk industri mebel jelas sekali tampak penurunan kualitas, baik dari segi desain maupun pengerjaannya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan beberapa tahun silam dimana Kalimantan Tengah terutama daerah Mandomai di Kabupaten Kuala Kapuas termasuk penghasil furniture berkualitas ekspor, dan banyak digunakan untuk furniture kantor, rumah tangga, dan juga perhotelan.
Apa yang mengakibatkan munculnya permasalahan diatas? Terutama dengan industri mebel di Kalimantan Tengah. Apakah karena tidak ada/sulitnya bahan dasar mebel? Atau bentuk dan produk yang ditawarkan selalu sama?, baik dari material maupun rancangan mebel? Atau kurangnya pemahaman desain pengrajin/desainer mebel?

B. Proses Kreatif Desain

Desain muncul ditengah kehidupan masyarakat modern, masyarakat industri yang berawal dari revolusi Industri. Desain hadir sebagai upaya kreatif dan inovatif manusia untuk memenuhi tuntutan dari aktivitas kehidupannya.
Proses kreatif ini hadir ketika otak kiri dan otak kanan bekerja dan diolah oleh alam pikiran manusia.
Hadirnya desain, merupakan pemikiran kreatif dan inovatif dari dalam diri manusia. Pemikiran kreatif dan inonavif yang muncul untuk memecahkan berbagai masalah dipahami sebagai konsep yang terprogram. Didalam profesi desain, pemrograman desain itu dikenal dengan istilah konsep desain.
Proses berpikir dalam desain disebut programming. Bila Programming adalah pencarian masalah ( problem seeking ), maka desain adalah pemecahan masalah adalah pemecahan masalah ( problem solving ). Dengan demikian, programming adalah analisis dan desain adalah sintesis.
Programming mengacu pada masalah yang rasional – obyektif yang diwujudkan dalam bentuk konsep – konsep. Konsep adalah upaya pencarian data yang bertujuan untuk memecahkan masalah dan bersifat subyektif, intuitif, tetapi mudah dalam menangkap konsep-konsep secara fisik. Konsep dibuat untuk melancarkan jalan menuju implementasi desain.

C. Mengenal Proses Desain Mebel
Kata furniture (dalam bahasa Inggris) diterjemahkan menjadi mebel. Istilah ‘mebel’ digunakan karena sifatnya bergerak atau mobilitasnya sebagai barang lepas di dalam interior arsitektural.Kata mebel diambil dari bahasa Perancis yaitu meubel.
Berawal dari revolusi industri, design lahir sebagai satu upaya kreatif dan inovatif manusia, hasil olah rasa dan gagas otak manusia. Desain hadir dari pemikiran kreatif dan inovatif manusia untuk memecahkan berbagai masalah dan dipahami sebagai konsep terprogram.
Menurut Drs. Eddy S. Marizar dalam bukunya Designing Furniture, terdapat sepuluh masalah yang harus diolah dalam satu proses desain mebel meliputi : (1) studi aktivitas manusia pemakai, (2) studi gerak manusia dan antropometrika/ukuran/dimensi, (3) studi fungsi dan ergonomi, (4) studi bentuk dasar dan estetika, (5) studi bahan utama dan tekstur, (6) studi warna, (7) studi struktur dan konstruksi, (8) studi ragam hias. (9) studi bahan penunjang dan hardwares, (10) studi gaya (style) dalam desain. Bila kesepuluh masalah tersebut sudah dapat dipetakan secara sistematik dan rasional, maka desainer membuat sketsa alternatif dalam bentuk gambar perspektif atau gambar presentasi. Langkah selanjutnya adalah membuat model/sample produk.
Proses diatas kemudian dikonsultasikan kembali pada pemesan atau pengguna, maka produk mebel yang sudah dievaluasi tadi dibuat kedalam gambar kerja dengan mengunakan skala. Proses terakhir bagi desainer adalah mewujudkan produk tiga dimensional ke dalam proses produksi yang sesuai dengan pesanan pengguna.

D. Gagasan
Di indonesia dan juga di Kalimantan Tengah, pengrajin mebel cenderung senang menjiplak desain orang lain dan rancangan mebel dari desainer asing (barat). Sebenarnya apabila desainer mampu mengembangkan kreatifitas dan inovasinya dalam gagasan bentuk mebel, maka tidak akan selalu hadir meja berbentuk oval atau persegi panjang.
Lingkungan hidup kita bisa di jadikan sumber inspirasi yang tiada habisnya, Alam adalah guru bagi seorang perancang mebel. Pernahkah anda melihat sebuah kursi berbentuk dasar dari tangan manusia? Apakah anda pernah melihat gagasan sebuah meja dari bentuk bunga? Apakah anda pernah melihat sebuah meja dengan penyangga berupa huruf atau angka? Atau pernahkah anda terpikir membuat lemari berbentuk tubuh manusia atau kursi berbentuk kupu-kupu.
Bentuk yang unik inilah yang menjadi daya tarik sebuah furniture, sehingga pengusaha mebel ataupun perancang furniture di Kalteng tidak perlu meniru rancangan yang sudah ada dan membuat furniture yang pasaran.
Diharapkan pengusaha furniture/mebel di Kalimantan Tengah dapat kreatif dan inovatif dalam merancang desain furniture seperti yang dilakukan ‘Mr.Rombong’ dari daerah Jawa Timur, sehingga produknya laku dijual dan penggunanya/pedagang merasa diuntungkan dengan menggunakan produk dari Mr.Rombong.
Peran Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (DEPERIDAGKOP) Kalteng sangat dituntut disini dalam memajukan industri furniture/mebel di Kalimantan Tengah, baik dalam bentuk pelatihan bagi pengusaha/pengrajin/desainer furniture, dan juga pameran produk yang di lakukan secara berkelanjutan baik di daerah maupun di luar Kalimantan Tengah.
Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan masukan yang bermanfaat dan menjadi perbandingan di hari yang akan datang, untuk kemajuan industri furniture/mebel di Kalimantan Tengah.

Dikirimkan ke Surat Kabar Harin KALTENG POS, tidak diterbitkan.

Musik yang menghadirkan mood ( Bagian 1 )

Standard

Sore yang cerah di salah satu mal di kota banjarmasin aku coba untuk memesan mocca latte sembari menikmati rokok yang sedari tadi sangat ingin aku bakar.., maklum di mal ini ruang untuk merokok sangat terbatas.., hanya bisa dilakukan di beberapa gerai resto, fast food, dan salah satunya coffee corner yang aku tongkrongi ini.
Sejak awal masuk pusat pertokoan ini sudah diiringi dengan lantunan musik yang terdengar dari setiap sudut mal dengan bantuan penghantar bunyi disetiap pojok dan area mal. Kenapa ya selalu ada musik di pusat pertokoan??
Apa hubungannya musik yang diperdengarkan dengan pengunjung yang datang dan barang yang di jual dan ditawarkan di dalam sebuah pusat pertokoan. Salah satu contoh bila kita lagi lagi nongkrong di ayam goreng berlogo pak jenggot, sering kali kita disuguhkan musik yang sebenarnya kurang begitu enak didengar dengan genre musik yang juga acak-acakan, kadang rock, pop, dan kadang juga lagu2 jadul dengan bunyi yang kurang pas didengar saat menikmati makanan. Hal yang terbalik dengan gerai coffee yg sedang aku tongkrongi ini, musik yang dihadirkan tertata dengan rapi pada saat awal datang terdengar musik instrument yang lembut dengan nuansa jazz yang modern, yang terus mengalun mengiringi saat santai penikmat kopi bersantai dengan obrolan bersama teman ataupun menjelajah dunia maya chatting dengan sahabat di situs pertemanan.
Penyajian musik kita dengar ketika sedang berada di gerai fastfood terkadang tidak bisa menghadirkan mood yang nyaman, ini memang sengaja diciptakan mengingat gerai fastfood memang bukan untuk berlama-lama untuk kita menikmati makanan dan mengobrol, suasana interior dan perabot yang dihadirkan, tidak di rancang untuk pengunjung bisa betah atau nyaman, terlihat dari kursi yang tanpa busa pelapis hingga tata letak meja dan kursi yang di maksimalkan untuk jumlah pengunjung dengan jarak yang relatif dekat antara meja satu dengan meja lainnya. Susunan perabot yang rapat dengan musik yang tidak menghidupkan mood, salah satu trik untuk mempercepat pengunjung meninggalkan gerai fastfood dan berganti dengan pengunjung yang lainnya.
Musik terkadang mampu memainkan emosi kita, lihat bagaimana DJ di sebuah club mampu menghipnotis cluber dengan racikan musik yang dihadirkan, Cluber bergoyang dan menggerakan tubuh mengikuti hentakan beat dari turntable sang DJ. Ketika kita berada di lounge bersama keluaraga ataupun kekasih, musik juga memberikan peranan menghadirkan mood romantis, ceria, dan intim lewat persepsi otak kita.
Lihat bagaimana Melly Goeslow mampu membangkitkan emosi penonton lewat soundtrak yang diciptakannya di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC ), bagaimana setiap adegan marah, sedih, dan ceria, mampu di interpretasikan Melly kedalam komposisi musik yang mengiringi adegan di film AADC.
Bahkan ketika kita sedang dalam emosi yang penuh dengan rasa rindu, musik pun mampu sedikit mengobati atau bahkan semakin menghadirkan riuh rendah emosi kerinduan kita, sama seperti ketika kita mengungkapkan cinta lewat balutan bunyi dan susunan lirik puitis.
Mmmmh..,membahas musik memang tidak ada habisnya,kita lanjutkan besok lagi untuk lanjutan bagian 2 tulisan ini, playlist di winamp sudah lagu terakhir.., senang dengan lagu ini..,mampu menghadirkan bayangan gadis cantik, penuh talenta, dengan tatapan mata tajam namun sendu.
Lagu ini untuk kamu…, Brand New Heavies ‘’ You Are The Universe”.

More About Nothing _ Wimar W.

Standard

More About Nothing | Wimar Witoelar

wim

Ini adalah buku Sekuel karya Wimar Witoelar sebelumnya yang di beri judul A Book About Nothing yang terbit di tahun 2006. Hampir sama dengan buku sebelumnya, More About Nothing ini masih bertutur tentang pengamatan sekeliling yang ‘khas’ ala Wimar Witoelar ( selanjutnya dibaca WIWI ). Pengamatan segar yang kemudian dituliskan dengan gaya ciamik dalam balutan humor, di buku MAN ini Wiwi menghadirkan 27 chapter. Di dalam More About Nothing Wiwi ini banyak judul bab yang “menggelitik” yang bisa membuat pembaca “tergelitik” atau tersenyum simpul mesam-mesem.., diantaranya ‘Kabelnya Sudah Dicolok ? “, bab yang bercerita tentang laptop baru Wiwi yang tidak mau nyala setelah semalaman di paksa untuk hidup, padahal sebelumnya sangat mantab dengan program yang harus berjalan dengan spesifikasi laptop yang handal pula.., Wiwi pun bingung dengan kondisi laptop baru yang tiba-tiba ngambek’ mogok nyala.., Akhirnya Wiwi berniat membawa laptop barunya ke toko asal,karena masih bergaransi, sampai akhirnya sang anak bertanya, “ini kabel adaptornya emang gak dicolokin ?!”. 
Baca pula hal 69 pada chapter yang berjudul “Handphone Merangkap Remote Control”, bagaimana Wiwi bercerita sebuah remote yang beralih fungsi menjadi sebuah handphone ketika sang pemilik remote terburu-buru berangkat kerja dan akhirnya mengira remote adalah sebuah handphone, apakah ini pengalaman pribadi Wiwi? 
Sebagai sebuah bacaan buku Wiwi ini mampu memberikan bacaan yang komunikatif dengan balutan keceriaan yang segar, dari hasil pengamatan Wiwi terhadap kehidupan dan aktivitas sekeliling dari pelbagai perjalanan Wiwi maupun dari pengamatan yang penuh dengan nuansa humor.

Me and Gola Gong

Standard

5

Seharian ini kota Palangka Raya di guyur hujan, berhenti sebentar, dan kembali hujan lagi, terus menerus hingga menjelang waktu sholat isya. Kembali dan seperti biasa perasaan jenuh kembali muncul terus menggangu dalam keseharianku diantara kreatifitas yang meredup.
Dan seperti biasa,penyelesainnya adalah mengeluarkan motor suzuki tahun 2004 (2 tak )yang memang selalu setia menemani keseharianku,bersama mr.suzuki aku mencoba untuk mengajaknya mengitari kota Palangka Raya yang memang cantik setelah di guyur hujan..,adem cuy..!.Aku dan suzuki meluncur keluar area perumahan menuju jalan arteri primer, pelan tanpa arah.., setelah beberapa kilometer kulalui, kuputuskan untuk mampir ke mall satu-satunya dikota ini, ‘katanya’ tapi aku lebih suka menyebutnya mall ‘bernuasa ruko’, dari style mall yang memang gak jelas!? Postmo bukan, modern juga kurang pantas, mungkin bisa masuk kategori bangunan ‘coba-coba” , ya.. bangunan yang dicoba dibuat seperti mall!! kemana aja bung arsitek!!.
eit.., itu tadi kita mgomongin exteriornya, ok.., setelah memarkirkan suzuki dengan aman di basement yang lembab dan kaya gudang, kalo bicara dalemnya lebih baik sedikit,hahaha, yah lumayanlah seperti berasa di Jogya kepatihan bandung, ato gak royalplaza di dekat ketintang-wonokromo surabaya. yang paling menghibur dari ‘mall” ini, ada Bookcity, salah satu gerai buku milik HERO group, lumayan membantu untuk menambah ilmu bagi warga kota yang merasa ingin tahu melalui jendela tulisan. setelah tadi sempat melihat majalah tempo warta seni, menampilkan seniman patung yang berpameran di galeri Nadi dan berkarya melalui material metal dan teknik las, aku berjalan menuju tumpukan buku biografi, terlihat beberapa judul buku biografi, Bob Marley, Barack Obama, Che Guevara dalam bentuk komik,etc, eits’.. ada satu nama yang sudah lama tidak terlihat mataku, ‘ Gola Gong’ ya.. salah satu penulis yang akrab dengan remaja 90-an, yang sering kali menulis di majalah remaja saat itu, sebut saja, Anita Cemerlang, atau majalah Hai. Kalo Hilman dikenal melaui novel komedi LUPUS, Gola Gong Juga mempunyai Karya yang legendaris, ‘Balada Si Roy’. Gola Gong yang nama aslinya : Raden Heri Hendrayana Harris Sumantapura, kali ini muncul dalam tulisannya tentang perjalan mengelilingi beberapa kota didunia, Malaysia, Thailand, India, Laos, hingga Nepal. Kumpulan tulisan ini dkumpulkan dalam satu buku yang akhirnya saya beli untuk bisa merasakan betapa ayiknya perjalanan Gola Gong,
The Journey : From Jakarta to Himalaya.
Gola Gong dalam The Journey : Ya, sejak aku membaca novel “Keliling Dunia dalam 40 Hari (Jules Verne) yang aku baca di perpustakaan sekolah saat aku di SD, aku ingin keliling dunia.Itu adalah mimpi kanak-kanakku. Lantas menjadi obsesi.Namun aku bukan anak pejabat, pengusaha, apalagi konglongmerat sehingga uang menjadi hambatan utama.aku hanyalah anak dari pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai guru.

Mahasiswa Robot dan Robot buatan Mahasiswa

Standard

Kehidupan kampus di Universitas Quo Vadis terlihat sangat lamban.., datang kuliah lalu pulang.., tidak ada kegiatan selain masuk ruang kuliah menerima materi perkuliahan setelah selesai, bingung mau kemana dan akhirnya memilih untuk pulang.

Kehidupan mahasiswanya bagaikan robot yang telah di program untuk satu kegiatan yang penuh rutinintas. Wall Climbing yang berdiri dengan kokoh kesepian seperti tidak tau kapan ia akan disentuh.., lapangan basket lebih senang didatangi rumput dan lumut dibandingkan suara kasat sepatu basket, lapangan voli stadion dijadikan arena berjudi orang-orang yang  jelas tidak ada tampang mahasiswanya. Tidak pernah terdengar perbincangan “ wah si anu juara anu ya…, hebat juga si anu bisa buat kegiatan anu, sukses lagi anunya..

Berbeda dengan aktivitas kampus tetangga UnQuV, Universitas Palangka Raya. Di UNPAR terutama prodi bahasa dan Seni memiliki satu wadah berkegiatan dalam bentuk teater, teater ini rutin membuat naskah drama yang juga mereka tulis sendiri, kemudian di dihadirkan dalam satu pementasan teater. Wow!

Sebulan yang lalu.., di harian Kalteng Pos dimuat satu berita dari Mahasiswa Teknik Perangkat Lunak ,Pameran Robotic!

Pameran ini di gelar di atrium Palangka Raya Mal dengan menghadirkan robot ciptaan mahasiswa dengan kemampuan membaca garis dengan menggunakan infra merah. Aktivitas yang membanggakan untuk kehidupan di Universitas, Berkarya dan mencipta, satu aktivita dari wujud kreatifitas. Jejak-jejak aktivita yang seperti ini yang perlu satu dukungan solid petinggi-petinggi suatu Universitas agar tidak seperti kehidupa mahasiwa di Universitas Quo Vadis yang adem ayem.., apa sengaja dibuat adem ayem? Biar mahasiswanya adem ayem. Semoga UnQuV bisa meniru mahasiswa TPL dan Prodi Bahasa dan Seni di FKIP. Buat Roni Teguh robotnya ‘nakal’ juga ya.. bisa maju mundur..

 

Salam hangat..